https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 25 65 1850198 perjuangan-pemulung-sampah-raih-pendidikan-hingga-peroleh-beasiswa-lpdp-ke-luar-negeri-RuSHEtrZev.jpg

International School Jakarta – Dapat meraih pengajaran sampai ke tempat duduk kuliah tidak pernah dibayangkan oleh Firna Larasanti. Karena, dia sadar profesi sang ayah sebagai buruh rongsok dan sang ibu sebagai buruh cuci dirasa tidak akan sanggup mengantarkanya duduk di tempat duduk perguruan tinggi.

Semenjak kecil, Firna dan keluarga terbiasa hidup mengontrak di sebuah kamar kecil dan bermigrasi-pindah. Sampai pada 2006 mereka dibiarkan untuk mendirikan sebuah gubug kecil di atas tanah milik pemerintah Kota Semarang. Hal itu amat disyukuri, karena mereka bisa berlindung dari panasnya sang surya dan dinginya hujan.

 

 

Pekan itu, tarif sekolah yang amat tinggi, membikin Firna putar otak. Lulusan libur nasional dan hari Tapi, dia berprofesi di pemancingan menjadi pengantar makanan. “Di tiap aku mendampingi makanan ke pelanggan, aku senantiasa berdoa semoga suatu dikala nanti aku bisa membahagiakan kedua orang tua aku dan meningkatkan harkat, martabat dan derajat kedua orang tua,” tuturnya.

Selepas SMA, Firna tidak mempunyai bayang-bayang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena dia sadar untuk tarif sekolah dikala SMP dan SMA terasa amat berat. Saya cita-cita mau mengenyam tempat duduk kuliah tidak pernah luntur di hati kecil Firna. Suatu saat, dikala menolong sang ayah memilah-milah barang rongsokan, dia menemukan buku SNMPTN berwarna biru. Dalam buku hal yang demikian tertera bermacam daftar universitas negeri dan ternama di Indonesia.

 

Pengorbanan S-1

Meskipun telah diterima di Sekali-sekali Politik Unnes, melainkan ujian tidak henti mesti dihadapi Firna. Pada semester pertama, dia belum diungkapkan sebagai penerima beasiswa Bidik Misi dan dikenakan tarif uang pangkal sebesar Rp7.150.000. Saya bahkan lemas karena keluarga tak mempunyai uang sepeser bahkan. Selama satu semester, Firna berupaya minta keringanan waktu untuk membayar uang pangkal hal yang demikian.

“Kami sekeluarga bahkan berprofesi keras. Tapi menetapkan kuliah sambil berprofesi apa saja dari jadi babysitter sampai menjadi buruh pasar. Sedangkan, di tengah penghujung semester satu aku dibiarkan menerima keringanan uang pangkal dari kampus. Pekan itu, aku juga sanggup menperoleh IPK teringgi se-jurusan pada semester permulaan pertama.”

Semester dua, Dewi Fortuna berada di pihaknya. Saya diungkapkan lolos menjadi penerima beasiswa Bidik Misi substitusi. Dari uang saku Bidik Misi, dia dapat mengredit sebuah notebook dan sisanya diaplikasikan untuk keperluan kuliah. Meskipun demikian itu, dia konsisten berprofesi keras di jeda waktu perkuliah untuk menutupi kekurangan keperluan. Sedangkan disela-jeda aktivitas, dia membeli buku-buku bekas milik sahabat untuk menolong bapak dan ibu mengumpulkan barang rongsokan. – International School In Jakarta

 

 

Continue Reading
Share: